Showing posts with label cemburu. Show all posts
Showing posts with label cemburu. Show all posts

Friday, July 30, 2010

Night Poem


Sungguh cemburu aku pada angin
Sungguh cemburu aku pada matahari
Sungguh cemburu aku pada dedaunan
Sungguh cemburu aku pada gemericik air
Sungguh cemburu aku pada debu yang beterbangan

Aku cemburu pada angin yang berhembus dan menerpa kulitmu
lalu memberikan kesejukan dalam pikiranmu

Aku cemburu pada matahari yang menerangi jalanmu dan
menjadi sumber kekuatan bagi ragamu

Aku cemburu pada dedaunan yang setiap pagi menyapamu dengan
nyanyian khasnya hingga menggembirakan hatimu

Aku cemburu pada gemericik air yang setiap hari menyapu
keringat lelahmu hingga kau merasa nyaman dalam menempuh harimu

Aku cemburu pada debu yang beterbangan mengenai pakaianmu lalu
ia kau seka dengan tangan lembutmu

Aku lebih cemburu pada siapa saja yang leluasa melihat senyum, sedih
dan tawamu setiap saat

Aku sungguh cemburu!

Monday, April 12, 2010

Cemburu

Jujur kukatakan aku cemburu
Namun tak bisa kuungkapkan saat itu
Badanku tak bergeming
Tubuhku panas dingin

Bergejolak rasa di hati
Membuatku ingin berlari dari sini
Namun apa daya kaki seperti terpaku dalam bumi
Hingga batinku tak tahan lagi

Aku menangis karena tak kuat lagi
Menempa hati tuk sadarkan diri
Kemudian bersiap tuk pergi
Karena air mataku sudah jatuh ke pipi

Akhirnya aku berlari
Setelah hela napas panjang
Namun masih terbayang
Siluet tadi yang tak kuingini

Cemburu memang tanda cinta
Tapi hati ini sungguh terluka
Bagaimana aku mengobatinya
Oh adakah dia menyadarinya


Kebahagiaan seperti apa yang kudapat nanti 
untuk mengobati sakitnya hati hari ini?

Thursday, November 26, 2009

Siluet


Pucat pasi aku melihat bayangan itu
Bukan karena takut kemudian bulu kudukku berdiri
Aku terperangah akan kelakuan manusia
Yang selama ini aku damba


Aku melihatnya berjalan menembus malam
Tapi ini tidak biasa
Aku ingin sekali menyapa
Hanya saja ia tidak sendiri


Lalu, bersama siapakah dia
Aku hanya mampu berdiam diri di kejauhan
Berharap ia tak menengok ke belakang
Mataku nanar melihat siluet dua sejoli

Meski hati meratapi
Tapi lidah kelu tak bernyali
Aku berusaha tegar sampai pada kulminasi kondisi
Namun airmataku tak terbendung lagi

Aku berkata pada diriku sendiri
Aku tidak cemburu
Lagipula aku siapa?
Protected by Copyscape Plagiarism Checker