Laksana angin semilir
Seperti mencium wangi mangir
Aku yang lemah mengharap kau ada
Di saat tak biasa
Oh kau laksana semburat
Warna di kesenjaan yang buram
Abu-abu kelabu tersirat
Namun senyummu menarik dalam temaram
Senja berganti malam
Lalu kemudian tenggelam
Namun tak jua padam
Dalam penantian meskin terpejam
Kau begitu kuat mengikat hati
Sampai aku lunglai jadi
Tetapi rela jua sampai mati
Hingga tak bisa kukenang lagi
Rinduku dambaku
Takkan pernah sirna termakan waktu
Percayalah janjiku
Tak ada yang mencintaimu sepertiku
Showing posts with label sunyi. Show all posts
Showing posts with label sunyi. Show all posts
Thursday, April 1, 2010
Wednesday, February 3, 2010
Kesunyian
Angin semilir berhembus meniup daunku
Ia menerpa tubuhku yang hampir lapuk
Panas telah mematikan sendi-sendi di batangku
Sudah sepantasnya aku terpuruk
Jika akarku tak sanggup menahan
Semua beban yang ditimpakan
Akankah hidupku memberi arti
Di masa lalu dan sebentar lagi
Jika aku harus bertahan
Lalu untuk siapa?
Jika aku harus menahan
Itu untuk siapa
Bahkan anginpun tak mendukungku
Ia begitu kencang berhembus dan menerbangkan daun-daunku
Kini aku tinggal ranting
dan tak punya arti penting
Dan mendungpun turut berduka untukku
Sedangkan matahari menjauhiku
Hingga tunasku tak mau tumbuh lagi
Atau aku harus menunggu kembali
Ia menerpa tubuhku yang hampir lapuk
Panas telah mematikan sendi-sendi di batangku
Sudah sepantasnya aku terpuruk
Jika akarku tak sanggup menahan
Semua beban yang ditimpakan
Akankah hidupku memberi arti
Di masa lalu dan sebentar lagi
Jika aku harus bertahan
Lalu untuk siapa?
Jika aku harus menahan
Itu untuk siapa
Bahkan anginpun tak mendukungku
Ia begitu kencang berhembus dan menerbangkan daun-daunku
Kini aku tinggal ranting
dan tak punya arti penting
Dan mendungpun turut berduka untukku
Sedangkan matahari menjauhiku
Hingga tunasku tak mau tumbuh lagi
Atau aku harus menunggu kembali
Thursday, November 26, 2009
Siluet
Bukan karena takut kemudian bulu kudukku berdiri
Aku terperangah akan kelakuan manusia
Yang selama ini aku damba
Aku melihatnya berjalan menembus malam
Tapi ini tidak biasa
Aku ingin sekali menyapa
Hanya saja ia tidak sendiri
Lalu, bersama siapakah dia
Aku hanya mampu berdiam diri di kejauhan
Berharap ia tak menengok ke belakang
Mataku nanar melihat siluet dua sejoli
Meski hati meratapi
Tapi lidah kelu tak bernyali
Aku berusaha tegar sampai pada kulminasi kondisi
Namun airmataku tak terbendung lagi
Aku berkata pada diriku sendiri
Aku tidak cemburu
Lagipula aku siapa?
Friday, November 20, 2009
Sembilu Senja
Memburu mata ke peraduan di mana sang surya hendak menuju
Dan semakin hilang ia hingga penglihatan ini tak mampu menembusnya
Selongsong bayangan yang melekat itu tampak semakin nyata
Seolah tak percaya ia datang ketika sang surya hilang
Ia melewatiku begitu saja
Dengan senyum datarnya
Sedikitpun tak diliriknya aku
Serasa lumpuh seluruh tubuhku
Senja yang dulu selalu membuatku terpesona akan keindahannya
Kini seolah menjadi belati yang menusuk jiwa
Meski raga tetap berdiri tegak
Kehancuran hati ini siapa yang mampu menenggak
Oh, mimpi
Aku terperanjat tiba-tiba
Dan tak mendapati apa-apa
Apalagi kabar berita
Seolah semua sudah tertutup tentangnya
Atau aku memang tak berhak mengingatnya
Padahal kenangan lama yang tercipta
Bukan aku yang membuatnya
Senja, sungguh tega dirimu menghalau segala harapan
Jika engkau tiba setelah teriknya matahari
Apakah hanya matahari harapanku
Tidak.. aku masih mampu berdiri
Hanya waktu yang mampu untuk berkata setia
Aku tergenang dalam kehampaan yang tak mampu aku tepis
Aku terkukung keadaan yang tak aku ingini tapi tetap kujalani
Aku salah dan tetap kuulangi
Aku tak tahu harus bagaimana lagi
Kakiku sudah sulit kugerakkan
Aku ingin berdiam di sini
Dan menanti siapapun dia yang Allah berikan
Berharap ia sebaik yang dulu kuimpikan
Hujan
Aku selalu ingin bercerita tentang hujan
Dalam alunan rima bergema
Meski sendiri bernyanyi
Namun hati terasa sejuk sekali
Hujan selalu membantuku ungkapkan rasa
Ia datang saat aku sedih dan gembira
Meski tak ada kabar yang menyapa
Namun aku selalu menikmatinya
Bahagia saat hujan turun
Sebenarnya tidak juga
Tapi aku akan ceria bila teringat memori lama
Kemudian aku bersandar dan terlelap tidur
Aku inginkan kebahagiaan
Sama seperti kemarau merindukan hujan
Seperti itulah jiwaku sekarang
Sepi, sendiri, sunyi..
Di Mana Rimbanya
Rinduku sudah habis terbuang
Tapi kurasa ia tak percuma
Karena itu kubuang lalu ku pungut lagi
Lebih baik disimpan
Walau itu tak mempan
Menyembuhkan segala angan
Ini tak kuanggap penderitaan
Hanya sekedar ujian kehidupan
Karena itu aku tak mau panjang angan
Tapi naluriku terus saja mengharap ketidakpastian
Satu hal yang pasti aku yakin perubahan adalah kepastian
Meski raga menolak namun hati bersikeras
Karenanya aku lumpuh tak berdaya
Jika aku bangkit itu bukan karena dia
Untuk apa hidup dengan rasa kecewa
Meski hati menolak atas apa yang diucap
Tapi takdir suatu hari pasti terungkap
Sunday, November 8, 2009
Awan Kelam
Senja ini aku mendongak ke langit
Tampaknya awan biru dan jingga tengah bertarung sengit
Tapi hatiku makin terhimpit
Dan memilih untuk tetap di ruang sempit
Hingga tak kupedulikan pertarungan itu terhantam
..Oleh awan hitam
Karena hatiku masih saja kelam
..Oleh awan hitam
Karena hatiku masih saja kelam
Sampai terdengar alunan lagu lama
Malah makin mengoyak jiwa
Malah makin mengoyak jiwa
Jiwaku rapuh..Jiwaku butuh
Jiwaku merindu..Jiwaku beradu
Jiwaku merindu..Jiwaku beradu
Yang pasti
Ingin kudapati
Bukanlah awan hitam yang datang
Lalu serta merta menghadang
Ingin kudapati
Bukanlah awan hitam yang datang
Lalu serta merta menghadang
Tapi..
Awan cerah yang menentramkan hati..
Awan cerah yang menentramkan hati..
-pf. 24/05/08
Subscribe to:
Posts (Atom)











