Sunday, November 8, 2009

SELAKSA JINGGA

Berkhayal di kala senja
Sekilas diriku jadi jumawa
Karena indahnya wajah sang surya
Dikelilingi lazuardi jingga


Melembut hati tak sungkan lagi
Tuk ikuti kata sanubari
Yang melunglai dan hentikan diri
Tinggalkan asyiknya duniawi


Wahai Pelindung jiwaku
Pacu diriku tuk gapai ridhoMu
Tinggal selaksa adanya aku
Menunggu bangkit tegaknya wasilah dienku...


-pekan ke 2 Agustus 2004

MEMBERI ARTI

Sang fajar hendak bergeliat
Seolah tanda manusia harus bersiap
Memenangkan hari dengan mantap
Namun ia keburu malu demi melihat
Kita tidak menyantap kitab


Tapi kodrat tak mampu ia lawan
Inginnya dia kembali gelap
Apa daya bila harus menempuh siang
Kulihat di lazuardi, ia semakin terang


Seolah ingin membakar jiwa-jiwa
Penuh dosa di alam fana
Agar sadar dunia baqa


Meredup ia hingga senja

Seketika lunglai di peraduan
Tak dinyana dari tabir rembulan
Ia melihat lebih banyak dosa


Namun ia tak bisa menutup mata

Menangispun tak bisa
Hanya bintang-bintang setia temaninya
Memaksanya pasrah dan berdo’a


Wahai insan...
Tidakkah malu pada kesucian sang surya
Melihat jelas kerusakan yang dibuat manusia
Adakah adanya kita
Memberi arti pada dunia
Dan mendapat harga di mataNya


-pf.06/03/07

HAK JIWA

Suatu duka tak mungkin berulang derita
Bila semua membela hak jiwa

Tersadarkan oleh keringnya lidah tak berkata
Hingga kuhirup hiruk pikuk letihnya rongga

Rongga iman yang mengusik nadi
Menuju genta tak bersuara
Melilit leher ini hingga syaraf meronta


-Pf.03/04/07

YANG KURASA SAAT INI

Hingga kini yang kurasa adalah berat
Apakah karena hatiku berkarat

Ah, pasti bukan aku saja
Pasti semua merasanya


Mengapa semua terjadi bila tak kuhendaki
Satu kata untukku yang dahaga ini, KasihMu..

Kasih yang tidak terlihat oleh mata
Yang dikehendakiNya saja yang bisa mendapatkannya


Anugerah takkan pernah surut
Dan terhempas oleh ego si lemah

Tak bernyali walau sedikit
Ia bagaikan buih yang meluap tajam..


-pf.22/08/04

Tuk Diriku Yang MerindukanMu

 
Kupandangi langit biru
Indah nian kuberkata
Tak ayal lagi senja itu
Kan datang menutup cerah

Hingga kuberlari tanpa henti
Tertohok oleh rasa enggan ini
Yang menghamparkan kesesakan
Sampai harga diri ini bertumbangan

Akhir ini, jalan ini, kutemui
Dan tak seorangpun tahu
Hingga kuterhempas
Diam seribu bahasa mereka itu
Ketika tersadar kuterlepas

Bukan..
Bukan itu sebabnya..
Aku.. Aku yang nista ini hilang harga dirinya
Demi sebuah asa hampa
Kuterduduk Kutermenung
Dan hati ini ingin berteriak

Yaa..Rabb
Sesungguhnya ada rasa itu
Rasa takut..
Tak terperikan di hatiku
Berikan cahaya itu

Yaa..Ilahi
Aku ingin kembali..MerengkuhMu
Merajut kasih bersamaMu
Wahai Sang Pencerah Hatiku..

-pf.05/08/04

Mengapa

Mengapa mereka pesimis
Padahal aku sungguh optimis
Mengapa mereka berkata sudahlah
Padahal hatiku tak ingin menyerah

Mengapa mereka bilang berhenti
Padahal aku baru mulai meniti
Mengapa mereka berkata terimalah kenyataan
Padahal justru aku sedang menghadapi kenyataan

Mengapa mereka bilang jangan terlalu mengharapkan
Padahal Allah punya berjuta kerahmatan
Mengapa mereka berkata sulit
Padahal itu hanya pandangan sempit

Mengapa mereka bilang tak usah berkelit
Padahal aku tidak melawan sengit
Mengapa akhirnya aku dibiarkan
Padahal aku masih butuh didoakan

Masih berjuta mengapa yang tak sanggup aku ungkapkan
Sungguh khawatir bila yang hadir adalah keegoisan

*Merenungi untuk menata kembali...

Kepak Sayap-sayap Patah


Selongsong petir manyambar telingaku yang sedang diam
Aku gundah dan merasa sudah tak bernyawa
Bila saja aku melakukan yang lebih baik dari kemarin
Kemurkaan ini takkan pernah menghampiri

Aku beruntung masih ada indera yang bisa berbicara
Aku kerahkan ia supaya berguna dan menghapus dosaku di masa lalu
Aku tergerak memberi lebih namun aku tak mampu mendengar lagi
Sampai kesabaran memberi peluang hingga Dia datangkan anugerah

Kini aku bisa mendengar lagi dan lebih sempurna
Sesempurna upayaku untuk mendayagunakannya
Karena aku tak ingin kehilangan ia lagi
Jika saja Dia mengangkat penglihatanku apa jadinya duniaku

Kini saatnya bangkit dari kesilapan
Sayap-sayap yang sejak lama terluka harus aku obati
Meski sudah patah dan hampir tak berguna
Namun dengan pertolonganNya, pasti bisa ku kepakkan

Andai kehidupan diperpanjang sesuai kemauan manusia
Tentu mereka akan berbuat semaunya
Tak ada lagi takut
Tak ada lagi akhlak yang patut

Duhai Allah, tunjukkanlah jalan yang benar
Aku tahu Engkau ingin pererat ukhuwah kami
Maka ridhoilah segala upaya kami mewujudkannya
Tak ayal lagi, karena yang benar datangnya dariMu, yang salah pasti dari kami..

*yang mencoba kembali mengepakkan sayap2 patahnya..
Protected by Copyscape Plagiarism Checker