Angin semilir berhembus meniup daunku
Ia menerpa tubuhku yang hampir lapuk
Panas telah mematikan sendi-sendi di batangku
Sudah sepantasnya aku terpuruk
Jika akarku tak sanggup menahan
Semua beban yang ditimpakan
Akankah hidupku memberi arti
Di masa lalu dan sebentar lagi
Jika aku harus bertahan
Lalu untuk siapa?
Jika aku harus menahan
Itu untuk siapa
Bahkan anginpun tak mendukungku
Ia begitu kencang berhembus dan menerbangkan daun-daunku
Kini aku tinggal ranting
dan tak punya arti penting
Dan mendungpun turut berduka untukku
Sedangkan matahari menjauhiku
Hingga tunasku tak mau tumbuh lagi
Atau aku harus menunggu kembali
Wednesday, February 3, 2010
Monday, February 1, 2010
Lorong Kenangan
Di ujung lorong ini
Dua tahun yang lalu
Dia masih menyapaku
Namun kini, tak ada lagi
Lorong ini tinggal kenangan
Karena yang kulihat hanya bayangan
Satu hal yang sulit terpikirkan
Adakah dia merasakan apa yang kuinginkan
Lorong itu merupakan pintu
Bagi aku yang merinduimu
Dia tidak tahu betapa berartinya bagiku
Bertemu dirinya di kala itu
Biarlah dia tak pernah tahu
Itu lebih baik bagiku
Walau pahit seperti empedu
Asal engkau tetap di hatiku
Friday, January 29, 2010
Ketetapan Hati
Pengikut manakah langkahku ini
Pengikut siapakah diriku ini
Pengikut jalan inilah aku
Pengikut jalan Dialah aku
Aku bersemayam dalam mimpiku
Tak bergeming kemarin sejenak
Jika saja Dia tak membangunkan aku
Apa daya, pasti diri ini terlena
Thursday, November 26, 2009
Siluet
Bukan karena takut kemudian bulu kudukku berdiri
Aku terperangah akan kelakuan manusia
Yang selama ini aku damba
Aku melihatnya berjalan menembus malam
Tapi ini tidak biasa
Aku ingin sekali menyapa
Hanya saja ia tidak sendiri
Lalu, bersama siapakah dia
Aku hanya mampu berdiam diri di kejauhan
Berharap ia tak menengok ke belakang
Mataku nanar melihat siluet dua sejoli
Meski hati meratapi
Tapi lidah kelu tak bernyali
Aku berusaha tegar sampai pada kulminasi kondisi
Namun airmataku tak terbendung lagi
Aku berkata pada diriku sendiri
Aku tidak cemburu
Lagipula aku siapa?
Friday, November 20, 2009
Sembilu Senja
Memburu mata ke peraduan di mana sang surya hendak menuju
Dan semakin hilang ia hingga penglihatan ini tak mampu menembusnya
Selongsong bayangan yang melekat itu tampak semakin nyata
Seolah tak percaya ia datang ketika sang surya hilang
Ia melewatiku begitu saja
Dengan senyum datarnya
Sedikitpun tak diliriknya aku
Serasa lumpuh seluruh tubuhku
Senja yang dulu selalu membuatku terpesona akan keindahannya
Kini seolah menjadi belati yang menusuk jiwa
Meski raga tetap berdiri tegak
Kehancuran hati ini siapa yang mampu menenggak
Oh, mimpi
Aku terperanjat tiba-tiba
Dan tak mendapati apa-apa
Apalagi kabar berita
Seolah semua sudah tertutup tentangnya
Atau aku memang tak berhak mengingatnya
Padahal kenangan lama yang tercipta
Bukan aku yang membuatnya
Senja, sungguh tega dirimu menghalau segala harapan
Jika engkau tiba setelah teriknya matahari
Apakah hanya matahari harapanku
Tidak.. aku masih mampu berdiri
Hanya waktu yang mampu untuk berkata setia
Aku tergenang dalam kehampaan yang tak mampu aku tepis
Aku terkukung keadaan yang tak aku ingini tapi tetap kujalani
Aku salah dan tetap kuulangi
Aku tak tahu harus bagaimana lagi
Kakiku sudah sulit kugerakkan
Aku ingin berdiam di sini
Dan menanti siapapun dia yang Allah berikan
Berharap ia sebaik yang dulu kuimpikan
Hujan
Aku selalu ingin bercerita tentang hujan
Dalam alunan rima bergema
Meski sendiri bernyanyi
Namun hati terasa sejuk sekali
Hujan selalu membantuku ungkapkan rasa
Ia datang saat aku sedih dan gembira
Meski tak ada kabar yang menyapa
Namun aku selalu menikmatinya
Bahagia saat hujan turun
Sebenarnya tidak juga
Tapi aku akan ceria bila teringat memori lama
Kemudian aku bersandar dan terlelap tidur
Aku inginkan kebahagiaan
Sama seperti kemarau merindukan hujan
Seperti itulah jiwaku sekarang
Sepi, sendiri, sunyi..
Di Mana Rimbanya
Rinduku sudah habis terbuang
Tapi kurasa ia tak percuma
Karena itu kubuang lalu ku pungut lagi
Lebih baik disimpan
Walau itu tak mempan
Menyembuhkan segala angan
Ini tak kuanggap penderitaan
Hanya sekedar ujian kehidupan
Karena itu aku tak mau panjang angan
Tapi naluriku terus saja mengharap ketidakpastian
Satu hal yang pasti aku yakin perubahan adalah kepastian
Meski raga menolak namun hati bersikeras
Karenanya aku lumpuh tak berdaya
Jika aku bangkit itu bukan karena dia
Untuk apa hidup dengan rasa kecewa
Meski hati menolak atas apa yang diucap
Tapi takdir suatu hari pasti terungkap
Subscribe to:
Posts (Atom)










