Jujur kukatakan aku cemburu
Namun tak bisa kuungkapkan saat itu
Badanku tak bergeming
Tubuhku panas dingin
Bergejolak rasa di hati
Membuatku ingin berlari dari sini
Namun apa daya kaki seperti terpaku dalam bumi
Hingga batinku tak tahan lagi
Aku menangis karena tak kuat lagi
Menempa hati tuk sadarkan diri
Kemudian bersiap tuk pergi
Karena air mataku sudah jatuh ke pipi
Akhirnya aku berlari
Setelah hela napas panjang
Namun masih terbayang
Siluet tadi yang tak kuingini
Cemburu memang tanda cinta
Tapi hati ini sungguh terluka
Bagaimana aku mengobatinya
Oh adakah dia menyadarinya
Kebahagiaan seperti apa yang kudapat nanti
untuk mengobati sakitnya hati hari ini?
Monday, April 12, 2010
Friday, April 2, 2010
Nyanyian Kesedihan
Merana tak kunjung jua redanya
Inikah derita bagai neraka
Tidak, ini belumlah seberapa
Sontak akupun bangkit dari nestapa
Mungkin titian ini sulit kuterpa
Jika saja ada ranjau yang kusita
Namun kusimpan untuk apa
Beban saja jadinya
Bila juga kuhempaskan
Apakah hilang segala noda
Aku begini bukan karena nafsu
Mengapa juga tak mengerti aku
Aku egois bukan karena egoku
Aku di sini menjulang bagai batu
Begitu angkuh dengan perasaan tak menentu
Dan sekali lagi tersapu angin lalu membisu
Pelajaran berharga aku simak baik-baik
Namun semua belum berangsur laik
Segera kukosongkan segala rasa
Tapi apakah tidak terlalu sederhana
Sedangkan masa sebelumnya
Aku terkukung perasaan hampa
Makin hampa pula segala hampa dan jumawa
Hingga kutermenung meratapi derita
Takkan jua hampa hilang dari jiwa
Mengapa ikhtiarku kau anggap sopak
Jika sakitnya berbeda dampak
Sungguh tak kuasa aku begini
Jika saja aku besok mati
Mungkin terakhir kali kualami derita ini
Ini memang bukan masalah kesempurnaan
Juga bukan soal penampilan
Ini murni kesetiaan
Kesetiaan terhadap manusia yang tidak mampu
memberikan kemaslahatan tanpa izinNya
Kesetiaan yang dianggap sebagai cambuk atas maksiat dan dosa
Kesetiaan yang menggila meski wajar bagi sebagian manusia
Kesetiaan yang dikecam namun aku tak mampu melawannya
Biarlah Allah yang menuntun kesetiaanku
Meski jalannya masih jauh untuk kutempuh
Meski rintangan selalu membayangi langkahku
Keyakinanku akan tetap begini hingga akhir aku bersimpuh
Rabb, kumohon jadikan ini keridhoanMu
Aku takut bila Kau marah
Aku takut bila salah arah
Harapanku semoga yakinnya aku datang dariMu
Inikah derita bagai neraka
Tidak, ini belumlah seberapa
Sontak akupun bangkit dari nestapa
Mungkin titian ini sulit kuterpa
Jika saja ada ranjau yang kusita
Namun kusimpan untuk apa
Beban saja jadinya
Bila juga kuhempaskan
Apakah hilang segala noda
Aku begini bukan karena nafsu
Mengapa juga tak mengerti aku
Aku egois bukan karena egoku
Aku di sini menjulang bagai batu
Begitu angkuh dengan perasaan tak menentu
Dan sekali lagi tersapu angin lalu membisu
Pelajaran berharga aku simak baik-baik
Namun semua belum berangsur laik
Segera kukosongkan segala rasa
Tapi apakah tidak terlalu sederhana
Sedangkan masa sebelumnya
Aku terkukung perasaan hampa
Makin hampa pula segala hampa dan jumawa
Hingga kutermenung meratapi derita
Takkan jua hampa hilang dari jiwa
Mengapa ikhtiarku kau anggap sopak
Jika sakitnya berbeda dampak
Sungguh tak kuasa aku begini
Jika saja aku besok mati
Mungkin terakhir kali kualami derita ini
Ini memang bukan masalah kesempurnaan
Juga bukan soal penampilan
Ini murni kesetiaan
Kesetiaan terhadap manusia yang tidak mampu
memberikan kemaslahatan tanpa izinNya
Kesetiaan yang dianggap sebagai cambuk atas maksiat dan dosa
Kesetiaan yang menggila meski wajar bagi sebagian manusia
Kesetiaan yang dikecam namun aku tak mampu melawannya
Biarlah Allah yang menuntun kesetiaanku
Meski jalannya masih jauh untuk kutempuh
Meski rintangan selalu membayangi langkahku
Keyakinanku akan tetap begini hingga akhir aku bersimpuh
Rabb, kumohon jadikan ini keridhoanMu
Aku takut bila Kau marah
Aku takut bila salah arah
Harapanku semoga yakinnya aku datang dariMu
Thursday, April 1, 2010
Mendambamu
Laksana angin semilir
Seperti mencium wangi mangir
Aku yang lemah mengharap kau ada
Di saat tak biasa
Oh kau laksana semburat
Warna di kesenjaan yang buram
Abu-abu kelabu tersirat
Namun senyummu menarik dalam temaram
Senja berganti malam
Lalu kemudian tenggelam
Namun tak jua padam
Dalam penantian meskin terpejam
Kau begitu kuat mengikat hati
Sampai aku lunglai jadi
Tetapi rela jua sampai mati
Hingga tak bisa kukenang lagi
Rinduku dambaku
Takkan pernah sirna termakan waktu
Percayalah janjiku
Tak ada yang mencintaimu sepertiku
Seperti mencium wangi mangir
Aku yang lemah mengharap kau ada
Di saat tak biasa
Oh kau laksana semburat
Warna di kesenjaan yang buram
Abu-abu kelabu tersirat
Namun senyummu menarik dalam temaram
Senja berganti malam
Lalu kemudian tenggelam
Namun tak jua padam
Dalam penantian meskin terpejam
Kau begitu kuat mengikat hati
Sampai aku lunglai jadi
Tetapi rela jua sampai mati
Hingga tak bisa kukenang lagi
Rinduku dambaku
Takkan pernah sirna termakan waktu
Percayalah janjiku
Tak ada yang mencintaimu sepertiku
Tuesday, March 16, 2010
Jengah
Aku tergoda hirarki kehidupan yang sangat fana
Tak semestinya bicara jika tak punya kata
Dan akhirnya terlena kesenangan dunia
Aku jengah, aku terperangah
Jika saja aku sendiri yang pergi
Entah kemana tujuanku selanjutnya
Lalu kutemui jejak kakiku terhapus
Entah siapa yang menguntitku secara halus
Siluet bayangan titikpun tak ada
Wahai.. siapakah dia
Semakin yakin ku tak sendiri
Karena tak ada jejak kaki sama sekali
Namun itu kondisi yang kuhadapi
Bagaimana jadinya bila dia yang pergi
Kemudian aku sendiri
Sedangkan dia memadu rindu
Dan aku semakin sendu
Tak semestinya bicara jika tak punya kata
Dan akhirnya terlena kesenangan dunia
Aku jengah, aku terperangah
Jika saja aku sendiri yang pergi
Entah kemana tujuanku selanjutnya
Lalu kutemui jejak kakiku terhapus
Entah siapa yang menguntitku secara halus
Siluet bayangan titikpun tak ada
Wahai.. siapakah dia
Semakin yakin ku tak sendiri
Karena tak ada jejak kaki sama sekali
Namun itu kondisi yang kuhadapi
Bagaimana jadinya bila dia yang pergi
Kemudian aku sendiri
Sedangkan dia memadu rindu
Dan aku semakin sendu
Sepi
Angin semilir menggoyangkan tubuhku
Aku tak berdaya karena kakiku tertancap di batang itu
Kala siang panas membakar hingga ke sendiku
Kemudian debu menderu berpacu dengan angin dan mampir di pundakku
Sebuah kalimat tanya yang ingin kusampaikan: Mengapa?
Mengapa aku hanya berdiri di sini dan ditopang pula oleh orang lain
Mengapa aku tak sanggup berlari
Mengapa aku hanya mampu menyaksikan lalu lalang manusia
Aku ingin bebas
Bebaskan akuuuuu!!!
Wednesday, February 3, 2010
Kesunyian
Angin semilir berhembus meniup daunku
Ia menerpa tubuhku yang hampir lapuk
Panas telah mematikan sendi-sendi di batangku
Sudah sepantasnya aku terpuruk
Jika akarku tak sanggup menahan
Semua beban yang ditimpakan
Akankah hidupku memberi arti
Di masa lalu dan sebentar lagi
Jika aku harus bertahan
Lalu untuk siapa?
Jika aku harus menahan
Itu untuk siapa
Bahkan anginpun tak mendukungku
Ia begitu kencang berhembus dan menerbangkan daun-daunku
Kini aku tinggal ranting
dan tak punya arti penting
Dan mendungpun turut berduka untukku
Sedangkan matahari menjauhiku
Hingga tunasku tak mau tumbuh lagi
Atau aku harus menunggu kembali
Ia menerpa tubuhku yang hampir lapuk
Panas telah mematikan sendi-sendi di batangku
Sudah sepantasnya aku terpuruk
Jika akarku tak sanggup menahan
Semua beban yang ditimpakan
Akankah hidupku memberi arti
Di masa lalu dan sebentar lagi
Jika aku harus bertahan
Lalu untuk siapa?
Jika aku harus menahan
Itu untuk siapa
Bahkan anginpun tak mendukungku
Ia begitu kencang berhembus dan menerbangkan daun-daunku
Kini aku tinggal ranting
dan tak punya arti penting
Dan mendungpun turut berduka untukku
Sedangkan matahari menjauhiku
Hingga tunasku tak mau tumbuh lagi
Atau aku harus menunggu kembali
Monday, February 1, 2010
Lorong Kenangan
Di ujung lorong ini
Dua tahun yang lalu
Dia masih menyapaku
Namun kini, tak ada lagi
Lorong ini tinggal kenangan
Karena yang kulihat hanya bayangan
Satu hal yang sulit terpikirkan
Adakah dia merasakan apa yang kuinginkan
Lorong itu merupakan pintu
Bagi aku yang merinduimu
Dia tidak tahu betapa berartinya bagiku
Bertemu dirinya di kala itu
Biarlah dia tak pernah tahu
Itu lebih baik bagiku
Walau pahit seperti empedu
Asal engkau tetap di hatiku
Subscribe to:
Posts (Atom)






